Sabtu, 16 Maret 2013

8 PILAR GURU PROFESIONAL


Sifat-sifat guru yang baik memberikan kontribusi yang sangat bermakna terhadap nilai kompetensi profesional guru. Berkaitan dengan hal ini ulama besar dan tokoh pendidikan muslim terkenal al-Ghazali (Fathiyah Hasan Sulaiman. 1986. h. 43-51) berpendapat, bahwa: seorang guru yang sempurna akalnya, terpuji budi pekertinya dan layak menjadi pengemban tugas secara umum harus memiliki sifat-sifat khusus sebagai berikut:
1.      Kasih sayang dan lemah lembut.
Al-Ghazali menyarankan agar guru berperan sebagai ayah dari anak didiknya. Bahkan hak guru atas anak didik, menurut Al-Ghazali lebih besar dari pada hak ayah atas anaknya. Karena “…orang tua penyebab wujud kekinian dan kehidupan yang fana, sedang guru penentuan kehidupan yang abadi.” Karena dialah yang membimbing anak didik ke jalan yang mendekatkan kepada Allah SWT.
2.      Tidak meminta upah.
Meminta upah dalam mengajar adalah suatu yang tidak bisa diterima dan tidak berkenan di hati anggota masyarakat dengan segala perbedaan kelas dan kecenderungan mereka. Al-Ghazali sangat merendahkan gagasan mencari upah dalam mengajar. Ia mengatakan: “Barang siapa mencari harta dengan ilmu maka ia seperti orang yang mengusap alat penggosok dengan mukanya untuk membersihkan. Maka terjadilah penjungkir-balikan: majikan menjadi pelayan dan pelayan menjadi majikan.”
3.      Jujur dan terpercaya.
Seyogianya seorang guru menjadi pembimbing yang jujur dan terpercaya bagi muridnya. Hendaknya ia tidak membiarkan muridnya memulai pelajaran yang lebih tinggi sebelum memenuhi kewajiban pada pelajaran sebelumnya.
4.      Menjaga kejelekan muridnya.
Al-Ghazali mengemukakan bahwa menyebar-luaskan kesalahan anak akan membuat mereka protes secara demonstratif. Ia mengatakan tentang kewajiban guru, “… harus mencegah kejelekan akhlak murid, sebisa mungkin dengan cara sindiran tidak secara terang-terangan serta dengan rasa kasih sayang, tidak dengan cemoohan.”
5.      Guru teladan bagi muridnya.
Oleh karena guru adalah teladan yang diikuti oleh murid, maka sejak dini ia harus memiliki keluhuran budi dan toleransi. Konsekuensi dari dua sifat tadi, ia harus menghormati ilmu-ilmu yang berada di luar spesialisnya, tidak mencemooh atau mengecilkan nilainya. Al-Ghazali mengatakan adalah tidak baik seorang guru di muka muridnya mencemooh suatu disiplin ilmu di luar spesialisnya.
6.      Memahami kemampuan individu setiap murid.
Al-Ghazali tidak melupakan suatu prinsip yang kini merupakan salah satu prinsip terpenting yang diserukan oleh ahli pendidikan modern. Prinsip itu adalah agar perbedaan individu yang mengharuskan membedakan anak didik sesuai dengan kesiapan intelektual, dan kemampuan khusus mereka. Saran al-Ghazali: “Hendaknya seorang guru menyesuaikan dengan kemampuan pemahaman murid, jangan sampai memberi materi pelajaran yang belum bisa dijangkau pikiran mereka. Itu akan berakibat murid menolak, atau ia terpaksa menerimanya meskipun ia tidak paham.”
7.      Memahami ilmu jiwa anak (murid).
Al-Ghazali menganggap perlu mempelajari kejiwaan murid. Dengan itu guru dapat bergaul dengan muridnya tanpa ragu dan risau. Ia mengatakan salah satu faktor yang mendorong timbulnya rasa ragu murid pada gurunya adalah perasaan murid bahwa guru pelit ilmu kepadanya dan tidak mengajarkan ilmu sepenuhnya.
8.      Berpegang teguh pada prinsip.
Al-Ghazali antusias sekali untuk menerangkan bahwa berpegang teguh pada prinsip serta kesungguhan untuk merealisasikan haruslah merupakan salah satu sifat utama guru. Salah satu nasehatnya agar guru jangan meninggalkan prinsip atau berbuat sesuatu yang bertentangan dengan prinsip ini. Juga jangan sampai guru memilih perbuatan-perbuatan tertentu untuk dirinya tetapi dilarang untuk muridnya. Al-Ghazali mengibaratkan guru dan murid bagaikan pengrajin dengan tanah liat atau seperti bayang-bayang dengan tongkat. Tidak mungkin ada bentuk yang indah pada tanah bila pengrajin tidak punya kreasi, dan tidak mungkin bayang-bayang bisa lurus jika tongkatnya bengkok.
Kedelapan sifat-sifat guru yang dijelaskan al-Ghazali di atas merupakan sifat-sifat mulia yang harus dimiliki guru sebagai pilar untuk menopang kompetensi profesionalitasnya.

Sumber bacaan:
Fathiyah Hasan Sulaiman. 1986. Konsep Pendidikan Al-Ghazali.Terjemahan Ahmad Hakim & M.Imam Aziz. Jakarta: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)

Jumat, 15 Maret 2013

TEORI TEORI BELAJAR


Pada hakekatnya manusia adalah mahluk yang mempunyai kecenderungan untuk belajar. Manusia adalah mahluk yang selalu ingin tahu. Sifat keingintahuan manusia ini merupakan faktor pendorong dari dalam dirinya untuk belajar. Berkaitan dengan kegiatan belajar, Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya yang pertama diturunkan mengatakan: ﺍﻗﺭﺃ yang berarti “bacalah”.(Bachtiar Surin. 2002. h. 2693) Kata bacalah mengandung pengertian yang sangat luas, antara lain: Pertama, membaca sesuatu yang tersirat atau sesuatu yang ditangkap manusia dari sekelilingnya, seperti membaca lingkungan, membaca fenomena alam, membaca tingkah laku manusia dan lain-lain. Kedua, membaca sesuatu yang tersurat, yaitu sesuatu yang tertulis seperti buku-buku pengetahuan, membaca artikel, membaca karangan dan lain sebagainya.
Melalui kegiatan membaca ini manusia mendapatkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi dirinya demi meningkatkan harkat dan martabatnya dalam menjalani kehidupan. Di sini jelas bahwa kata “iqra” mengandung makna belajar.
Di sisi lain, Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
 (ﺭﻭﺍﻩﺍﺒﻦﻋﺒﺩﺍﻟﺒﺭ ) ﻁﻠﺏﺍﻟﻌﻟﻡﻓﺭﻴﻀﺔﻋﻟﻰﻜﻝﻤﺴﻟﻡﻭﻤﺴﻟﻤﺔ Menuntut ilmu wajib hukumnya bagi setiap muslim dan muslimat. (Moh Rifa’i. 1980, h. 43) Dalam hadits-hadits yang lain yang berkenaan dengan belajar juga disebutkan antara lain sebagai berikut: (ﺭﻭﺍﻩﺍﺒﻦﻋﺩﻯﻭﺍﻠﺒﻴﻬﻗﻰ) ﺍﻁﻠﺏﺍﻠﻌﻠﻡﻭﻠﻭﺒﺎﻠﺼﻴﻦ  Carilah ilmu walau di Negeri China. Dan  ﺍﻁﻠﺏﺍﻠﻌﻠﻡﻤﻦﺍﻠﻤﻬﺩﺍﻠﻰﺍﻠﻠﺤﺩ  Carilah ilmu sejak dari ayunan hingga ke liang lahad.
Adalah dua faktor yang saling memperkuat dorongan manusia untuk melakukan kegiatan belajar. Pertama, faktor internal yang datang dari dalam diri manusia, yakni sifat manusia yang berkecenderungan untuk belajar, dan kedua, faktor eksternal yang merupakan kewajiban atas manusia untuk menuntut ilmu tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.
Ditinjau dari sudut etimologi bahasa Indonesia kata belajar memiliki kata dasar ajar yang mengandung pengertian petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (dituruti). Belajar berarti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu (Pusat Bahasa. 2001). Beberapa defisisi belajar dikemukakan oleh para ahli sebagaimana dipaparkan di bawah ini.
E. R. Hilgrad dan A. G. Marquis dalam buku yang ditulis  Rasyad mendefinisikan belajar sebagai: Learning is the process by which an activity originates or is changed through training procedure (whether in the laboratory or in natural environment) as distringuished from changes by factor not attributable to training. (Aminuddin Rasyad. 2006, h. 28)
Menurut mereka belajar merupakan proses mencari ilmu yang terjadi dalam diri seseorang melalui latihan, pembelajaran dan sebagainya sehingga terjadi perubahan dalam diri orang tersebut. Proses mencari ilmu di sini bisa saja dilakukan dalam ruang laboratorium (in door) di bawah bimbingan guru maupun usaha/belajar sendiri, atau dapat pula dilaksanakan di lingkungan alam (out door) tempat proses belajar terjadi.
James L. Mursell dalam Rasyad mendefinisikan belajar sebagai: Learning is experience, explanation and discovery. Belajar adalah upaya yang dilakukan dengan mengalami sendiri, menjelajahi dan menemukan sendiri. Definisi ini mengandung pengertian bahwa orang belajar harus aktif dalam mencari dan menemukan ilmu yang dibutuhkan. (Aminuddin Rasyad. 2006).
Henry E, Garret dalam Rasyad menyatakan: Learning is the process which as result of training and experience leads to new or changed responses. Belajar merupakan proses yang berlangsung dalam jangka waktu yang relatif lama melalui latihan ataupun pengalaman yang membawa kepada perubahan diri dan perubahan cara mereaksi terhadap suatu perangsang tertentu. (Aminuddin Rasyad. 2006).
Lester Crow dan Alice Crow, sepasang suami istri ini mendefinisikan belajar sebagai berikut: “Learning is acuitition of habits, knowledge, and attitudes. Belajar adalah upaya untuk memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap-sikap.” (Aminuddin Rasyad. 2006, h. 29).
Robert M. Gagne dalam Rasyad mengemukakan bahwa:
Learning is a change in human disposition or capacity, which persists over a period time, and which is not simply ascribable to process of growth. Menurutnya belajar adalah perubahan yang terjadi setelah proses yang berlangsung terus menerus, bukan dikarenakan oleh proses pertumbuhan saja.” (Aminuddin Rasyad. 2006, h. 31).
Menurut Gagne, bahwa belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah berlangsung secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja. Ia berkeyakian bahwa belajar dipengaruhi oleh faktor yang datang dari dalam (internal) maupun dari luar (eksternal) diri manusia yang keduanya saling berinteraksi.
Di dalam bukunya yang berjudul Pedoman Khusus Pembelajaran Tuntas, Mukminan berpendapat bahwa pada prinsipnya belajar adalah proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara siswa dengan sumber-sumber atau obyek belajar, baik yang secara sengaja dirancang (by design) maupun yang tidak sengaja dirancang, namun dimanfaatkan.    (Mukminan. 2004. h. 5)
Berkaitan dengan konsep belajar, Rasyad (Aminuddin Rasyad. 2006, h. 42) mengemukakan teori koneksionis Edward L. Thorndike sebagai berikut:
Berdasarkan identifikasi Thorndike mengenai karakteristik belajar binatang tingkat rendah dan manusia dilakukan secara trial and error dan oleh Thorndike disebutnya learning by selecting and connecting.Percobaan yang tipikal dilakukan oleh Thorndike kepada orang belajar, ialah orang dihadapkannya kepada situasi yang mengandung masalah, yang mengharuskan dan mendorongnya untuk keluar dari masalah tersebut, seperti seekor binatang yang kelaparan dimasukkannya kedalam kotak bermasalah (problem box) yang pada bagian lainnya terdapat makanan. Binatang ini akan mencoba mencari jalan yang banyak rintangan itu untuk mencapai makanan yang tersedia itu. Demikian pula halnya manusia yang sedang belajar, ia akan mencoba melakukan berbagai cara dan kemungkinan untuk keluar dari masalah atau memecahkanya. Menurut Thorndike trial is the length of time ( or number of errors) involved in a single reaching of goal.
Teori belajar Thorndike ini akhirnya melahirkan tiga hukum belajar. Ketiga hukum belajar Thorndike ini menjadi pengingat bagi guru dalam memberikan arah kepada siswa bagaimana seharusnya belajar sehingga memperoleh hasil yang bermakna.
Dalam bukunya yang berjudul Teori Pembelajaran dan Pengajaran, Smith menjelaskan tiga hukum belajar Thorndike itu sebagai berikut:
“Hukum Efek” menyatakan bahwa ketika sebuah koneksi antara stimulus dan respon diberi imbalan positif, ia akan diperkuat, dan ketika diberi imbalan negatif, ia akan diperlemah. Thorndike kemudian “merevisi” hukum ini ketika dia menemukan bahwa imbalan negatif (hukuman) tidak memperlemah ikatan, dan bahwa sebagian konsekuensi yang tampaknya bisa menyenangkan tidak memotivasi prestasi.
“Hukum latihan” menyatakan bahwa semakin ikatan S-R (stimulus respons) dipraktikkan lebih kuat, maka ia akan menjadi kuat. Sama halnya dengan hukum efek, hukum latihan juga harus dimutakhirkan ketika Thorndike menemukan bahwa praktik tanpa umpan balik tidak memperluas prestasi.
“Hukum kesiapan” menyatakan bahwa disebabkan karena struktur sistem syaraf, unit konduksi tertentu, dalam suatu situasi tertentu, menjadi lebih mempengaruhi perilaku dari pada yang lain. (Mark K. Smith, dkk. 2009, h. 79-80)
Hukum efek (the law of effect) mengacu kepada penguatan atau melemahnya hubungan antara stimulus dan respons sebagai akibat dari keduanya. Bila dalam belajar terdapat adanya kepuasan atau kesenangan secara emosional, maka kekuatan hubungan antara S–R makin meningkat. Sebaliknya bila dalam situasi belajar tidak terdapat yang demikian tapi adanya rasa kebosanan atau suasana mengganggu, maka hubungan antara stimulus dan respons (S-R) melemah.
Secara pedagogis hukum belajar ini menantang para pendidik untuk menciptakan suasana hati dalam proses belajar mengajar. Dengan suasana belajar yang kondusif, seperti menyenangkan cara guru menyajikan pokok bahasannya dengan penampilan yang mengesankan, maka semua rangsangan atau kesan penginderaan (sens impression) atau (S) yang mengenai syaraf sensorik dan respons (R) akan terjadi hubungan antar keduanya secara baik. Sehingga materi pengajaran yang disajikan tersebut akan terasa terasosiasi, terkoneksi satu dengan yang lainnya, maka oleh Thorndike dikatakan belajar memberi hasil (effect).
Menurut teori dan hukum belajar dengan latihan, the law of exercise, tiada belajar tanpa latihan. Karena latihan yang dilakukan dapat membentuk kebiasaan dan keterampilan yang dapat mengubah tingkah laku pelajar. Sebab penggunaan latihan atau the law of use menurut Thorndike sangat penting karena akan dapat melatih respon terhadap pekerjaan yang akan dilakukan atas stimulus. Secara metodologis, hukum belajar Thorndike ini sudah dilakukan di mana mana baik secara formal maupun informal. Sebagai contoh  pendidikan membaca Al-Quran yang banyak dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan agama di Indonesia.  Tanpa latihan pembelajaran membaca Al-Quran tidak menampakkan hasil karena tidak terbentuk kebiasaan menghadapi stimulus. Jadi latihan adalah stimulus (S) yang menjadi perangsang bagi orang belajar untuk mereaksi dan mengerjakan atau menyelesaikannya.
Hukum kesiapan the law of readiness, secara pedagogis didaktik mengingatkan para pendidik untuk menyiapkan kondisi peserta didik menerima pengajaran yang akan disajikannya. Maka masalah kesehatan alat indera sangat ikut menentukan keberhasilan proses belajar mengajar. Menurut hukum ini, bahwa sebenarnya proses belajar mengajar tidak terlepas dari hukum kesiapan menerima rangsangan belajar dari pendidik atau guru. Artinya guru secara berencana menyiapkan stimulus (S) melalui bidang studi yang diajarkan, sehingga pihak murid akan siap menerima rangsangan belajar untuk diresponnya (R) melalui mendengarkan, menyimak, mengerjakan berbagai tugas yang telah disiapkan guru. Sebab itu menurut konsep media pengajaran, bahwa penyediaan alat-alat belajar termasuk ke dalam upaya readiness, sehingga proses belajar dapat berlangsung dengan baik. (Aminuddin Rasyad. 2006, h. 30)
Teori-teori tentang belajar telah banyak dikemukakan para ahli psikologi dan sangat berpengaruh terhadap konsep belajar. Pemahaman terhadap teori-teori belajar ini diperlukan bagi pendidik sebagai alat analisis terhadap tingkah laku atau sikap belajar siswa dalam menerima pelajaran. Sehingga dengan demikian teori belajar ini dapat diterapkan dalam situasi belajar yang sesuai dengan sikap dan kondisi siswa yang dihadapi.
Mencermati beberapa pendapat dan teori-teori tentang belajar yang dikemukakan di atas, maka dapatlah dipahami bahwa pertama, sejak manusia dilahirkan dan inderanya mulai berfungsi sejak saat itulah belajar dimulai. Kedua, selaras dengan perkembangan kemampuan indrawi, belajar dapat dilakukan secara sengaja (sadar) atau tidak sengaja (tidak sadar), karena hasil rekaman indra seseorang akan tersimpan di dalam memorinya yang pada saatnya akan menjadi pengetahuan atau ilmu bagi dirinya. Ketiga, belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Oleh karena itu, maka dapat dipahami pula bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah proses mencari ilmu atau pengetahuan dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat manusia melalui aktivitas pengembangan kemampuan diri seseorang, baik disengaja maupun tidak disengaja, di dalam ruang terbatas maupun tidak terbatas, dan dilakukan sepanjang hayat dikandung badan.
                                                                                  Jakarta, 15 Maret 2013
Sumber bacaan:
Aminuddin Rasyad. 2006. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Uhamka Press dan Yayasan PEP-Ex 8
Bachtiar Surin. 2002. Az-Zikra Terjemah dan Tafsir Alquran. Bandung: Penerbit Angkasa
Mark K. Smith, dkk. 2009. Teori Pembelajaran danPengajaran: Mengukur Kesuksesan Anda dalam Proses Belajar dan Mengajar Bersama Psikolog Pendidikan Dunia. Terjemahan Abdul Qodir Shaleh. Jakarta: Mirza Media Pustaka
Moh Rifa’i. 1980. 300 Hadits Bekal Da’wah dan Pembina Pribadi Muslim.Semarang : Penerbit Wicaksono
Mukminan. 2004. Pedoman Khusus Pembelajaran Tuntas. Jakarta: Subdis Pendidikan SMU. Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Propinsi DKI Jakarta
Pusat Bahasa. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Rabu, 13 Maret 2013

DAPAT UANG DARI INTERNET ITU MUDAH ! MAU?

\

DI SINI saya BOCORKAN RAHASIANYA !!! Tanpa perlu melakukan instalasi script/software, Tanpa membuat website, Tanpa ebook bahkan TANPA Menyewa Hosting (kira-kira=biaya penayangan) & Membeli Domain (kira-kira=area/space di dunia internet), Anda TETAP bisa menghasilkan uang ratusan ribu bahkan jutaan rupiah dari Internet! " Sangat direkomendasikan bagi PEMULA/NEWBIE atau GAPTEK sekalipun " Salah satu kelebihan dari BISNIS INI adalah Anda tidak perlu memiliki atau membuat produk sendiri untuk menjalankan bisnis online. Karena semuanya sudah disediakan. Manfaat Bergabung : - Anda akan mendapat sebuah website penghasil uang atas nama Anda yang akan bekerja untuk Anda selama 24 jam non stop dalam mengalirkan uang ke rekening Anda. - Anda akan mendapat Produk Digital Super Dahsyat yang bisa Anda DOWNLOAD di Member Area setelah keanggotaan Anda diaktifkan. - Gratis Update Produk Dan Bonus. Jika nantinya ada update produk dan bonus, maka Anda bisa mendapatkan updatenya secara Gratis. - Ilmu Berpromosi. Karena Rahasia Sukses Bisnis Online adalah promosi, maka bisnis ini memang benar- benar sangat cocok untuk latihan promosi. Anda hanya perlu mengikuti panduan/belajar promosi, promosi dan promosi. Karena semuanya sudah disediakan DI BISNIS INI. Jika Anda tidak pintar dalam berpromosi, dapat saya pastikan, bisnis online apapun yang Anda coba akan GAGAL. Kelebihan : Komisi 60.000 Akan di transfer langsung ke rekening bank Anda oleh para member yang bergabung melalui Website Anda. Komisi tergolong cukup besar, ini bagus sekali untuk menarik calon member. Biaya administrasi yang murah sebesar 35.000 untuk Admin. Ini menandakan Admin tidak serakah dan berharap mendapat kepercayaan member agar bisnisnya bertahan lama. Garansi 100 % Uang Kembali, Jika selama 1 tahun Anda tidak bisa menghasilkan uang sama sekali dari bisnis ini. Menggunakan System Lock Sponsor dimana sistem ini akan MENGUNCI POSISI Calon Member dengan Sponsornya ( orang yg mereferensikan bisnis ini kepada Anda ). Sistem ini bertujuan untuk menghargai JASA para Sponsor yang telah Berusaha Giat untuk mendatangkan prospek. Dan menjamin para Sponsor agar tidak kehilangan prospek. Admin kooperatif dan respon cepat. Anda dapat menghubungi Admin jika Anda membutuhkan bantuan apapun/ belajar apapun. Langsung Bisa Dapet Duit. Ya benar, Anda dapat langsung mendapat uang direkening Anda sesaat setelah daftar bukan besok atau lusa. Karena semua sudah disiapkan dan disediakan DI BISNIS INI, maka tugas Anda menjadi sangat ringan. Buruan JOIN KLIK DISINI !!!

Selasa, 12 Maret 2013

BISNIS VIRTUAL GILA!

            Ops! Apa benar bisnis virtual itu gila? Apanya yang gila? Menurutku kata “gila” itu sendiri mengandung dua pemahaman yang mengandung makna berlawanan. Satu bermakna positif dan yang lain mengandung pengertian negatif.

       Kata “gila” yang pertama mengandung konotasi positif dapat difahami bahwa bisnis virtual dapat menghasilkan keuntungan yang luar biasa. Dengan bekerja cerdas (bukan bekjerja keras), hanya sedikit tenaga dan tidak banyak terikat waktu plus tidak membutuhkan tempat/ruang khusus kita dapat menjalankan usaha dan meraih keuntungan yang relatif besar. Tentu apabila pekerjaan ini dilakukan dengan penuh tanggung jawab, tidak ada unsur penipuan ataupun paksaan.

       Mungkin ada saja dari sekian banyak pebisnis virtual terdapat beberapa diantaranya yang kurang bertanggung jawab, menipu dan lain sebagainya (wallahu a’lam). Nah ini konotasi kata “gila” jenis yang kedua, mengandung pengertian negatif. Namun demikian kita perlu pula  koreksi diri kita apakah anggapan ini benar? Jangan-jangan yang menganggap bisnis virtual itu menipu belum mempelajari bagaimana proses dan cara kerjanya. Mungkin kita baru membaca sampulnya, atau mungkin kita masih terpaku dengan bisnis konvenssional non-internet, sehingga menganggap bisnis virtual yang dilakukan melalui internet tidak masuk akal, hanya hayalan belaka.

Saran saya bagi pemula yang akan mencoba terjun ke bisnis virtual sbb:

  1. Pilihlah bisnis virtual yang sangat sederhana. Biasanya menawarkan keterangan “dapat dilakukan oleh yang gaptek sekalipun”. Nah di sini segaptek-gapteknya orang (maaf) seperti anda, tidak bisa dikatakan gaptek! Buktinya anda membaca blog ini.
  2. Pilihlah investasi yang sangat terjangkau dan inveskan secara ikhlas. Kenapa harus ikhlash? Ya! Agar supaya hati kita tidak sakit apabila hasilnya tidak sesuai yang kita harapkan. Ambil saja contoh: www.cektkp.com/rizquminh (mungkin cukup terjangkau).
  3. Jangan dulu bermimpi mendapat keuntungan yang besar. Ingat! Kita menanam pohon sekarang tidaklah mungkin dapat memetik hasilnya sekarang juga toh? Perlu proses. Perusahaan yang besar pun diawali dari kecil dan dimulai dari jatuh dan bangun. Ingat! Apabila anda jatuh, segeralah bangkit!
  4. Bersikaplah selalu optimis, mengikuti petunjuk-petunjuk yang diarahkan, berdoa dan berusaha, dan jagalah selalu sikap bersabar.
  5. Terakhir jagalah hubungan (silaturahmi) di antara sesama dan jangan lupa......... bersedekahlah, karena di dalam rizqi kita terdapat hak orang lain, yakni para fakir miskin.

Demikian sahabatku, semoga bermanfaat.
Buruan JOIN KLIK DISINI !!!

Minggu, 10 Maret 2013

TIPS MENYUSUN PTK

       Para guru yang terhormat. Saat ini seakan-akan sedang ada isu hangat di kalangan para guru, yaitu Penelitian Tindakan Kelas atau PTK yang wajib (fardu ain) dilakukan oleh Ibu dan Bapak Guru. Ada yang menanggapi positif, ada pula negatif. Menurut saya sebaiknya kita tanggapi secara positif. Mungkin masih ada di antara kita yang masih merasa berat melakukannya, apa lagi bagi anda yang (maaf) belum memahami apa itu PTK, apa maksud dan tujuannya, dan kenapa harus dibebankan kepada para guru.
        Berikut beberapa tips (menurut saya) agar menjadi ringan dalam menyusun PTK.
1. Jangan pikirkan dulu tentang bagaimana prosedurnya, sistematika penulisannya, administrasinya maupun biayanya. Mengajarlah seperti biasa.
2. Pilih kelas yang akan dijadikan subyek penelitian (boleh lebih dari satu) dan simpanlah data kelas tersebut. Buatlah administrasi (nilai) kelas tersebut seteratur mungkin.
3. Pilihlah metode mengajar yang nantinya akan menjadi judul PTK
4. Siapkan satu buku tulis kosong, kamera poket (HP), atau alat perekam lain dan selalu dibawa setiap Anda mengajar di kelas manapun.
5. Catatlah hal-hal yang berkaitan dengan kemajuan dalam proses pembelajaran. Sesekali Anda rekam/foto kegiatan siswa dalam proses pembelajaran. Sesekali juga salah satu siswa diminta untuk mengambil gambar Anda ketika Anda sedang action memberikan materi.
       Nah, apabila anda sudah dapat melakukan lima hal di atas, berarti anda sudah mengantongi bahan yang cukup banyak untuk membuat PTK. Terus kapan mulai menulisnya? Anda bisa memulai kapan saja, mana kala ada waktu yang senggang. Oke, sekian dulu, mudah-mudahan dapat dilanjut.
Selamat beraktivitas, semoga sukses selalu.